Internet dalam kenyataanya dewasa ini, sulit
untuk dihindari oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan, internet mudah
ditemukan di mana-mana dan bahkan muda juga dalam mengaksesnya. Satu sisi
internet memberikan surga, dalam hal ini kenikmatan tersendiri. Namun, di sisi
yang lain, internet menjanjikan pengaruh yang negatif bagi para pengguna
internet. Kenyataan seperti ini tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan menjadi
santapan yang menghanyutkan. Keadaan semacam ini jika para pengguna tidak
memiliki pemahaman yang sungguh maka kesalahkaprahan dalam memahami serta
menggunakannya pun terus dilakukan atau dijalankan.
Remaja adalah sebagian
pengguna yang dengan mudah terjerumus dalam arus kemajuan informatika, yang
selama ini sangat familial dengan internet. Remaja lebih senang
hadir dan menghibur diri dalam realitas maya. Kesenangan dan kenikamatan dunia
maya, mengakibatkan peran dan fungsi informatika saat ini lebih kepada sebuah
media yang berguna positif, bahkan membangun mental dan sikap setiap orang
sulit untuk ditingkatkan. Kesadaran terhadap internet sebagai tempat yang
menghibur lebih tinggi, tanpa mempertimbangkan pengaruh yang nantinya dihadapi
semakin surut.
Oleh karena itu, perlu
adanya pemahaman yang baik terhadap pemanfaatan internet sebagai sebuah media
yang lebih berguna dalam bidang pendidikan dibandingkan dengan sebuah media
hiburan belaka. Sebagai tulang punggung gereja secara khusus dan
bangsa secara umum, remaja mesti diperhatikan dengan sungguh, karena pengaruh
kemajuan dalam dunia informatika sangat membahayakan nasib para remaja sendiri
selaku penggunanya. Upaya untuk menyadarkan remaja selaku tulang
punggung gereja maka terlebih dahulu melihat sejauh mana remaja memahami
manfaat internet selaku media yang baik bagi pendidikannya terlebih sebagai
media PAK bagi remaja.
Pendidikan Agama Kristen
mungkin sulit dikembangkan dalam dunia informatika, akan tetapi selaku remaja
terlebih khusus remaja Kristen bagaimana bisa melihat internet sebagai media
PAK yang berguna dalam jangka waktu yang lama, bahkan remaja dapat
meminimalisir pengaruh buruk dari internet itu sendiri, terhadap remaja yang
menggunakannya. Pengaruh yang mudah merasuki kehidupan para remaja, yaitu
pengaruh pornografi maupun pornoaksi yang lebih hangatnya bermunculan di dunia
maya tersebut. Melangkah dari relita ini maka bagaimana PAK yang dipahami
remaja dalam dunia informatika.
Teknologi adalah suatu
bentuk aplikasi sains yang memecahkan masalah manusia. Teknologi
mengimplikasikan pilihan, dan pilihan menuntut keputusan yang tidak hanya
menyangkut aspek ilmiah, namun juga menyangkut keputusan yang berdimensi etis
dan religius. Kehadiran teknologi (teknologi Informatika) bukan secara
kebetulan dan mendadak, akan tetapi sudah terbentuk sejak lama.
Teolog Noris Clarke, menyuguhkan bahwa teknologi sebagai alat atau
instrumen kasih dan belas kasih dalam meringankan penderitaan manusia suatu
resons modern terhadap perintah Alkitab untuk memberi makan kepada yang lapar
dan menolong kebutuhan sesama.
Penerapan Aplikasi sains
dalam hal ini teknologi terhadap segala aktifitas manusia merupakan hal positif
yang perlu ditingkatkan dalam mendorong keberhasilan pemenuhan kebutuhan hidup.
Orang mungkin akan berpikir bahwa dengan terus mengandalkan teknologi, maka
kreatifitas manusia akan didominasi oleh teknologi tersebut. Seperti halnya
dalam penggunaan teknologi informasi oleh masyarakat dunia dewasa ini. Tidak
ada salahnya pemanfaatan teknologi oleh masyarakat, karena teknologi diciptakan
untuk memberdayakan masyarakat.
Terhadap perkembangan
teknologi yang di lihat yang telah merambat masuk dalam kehidupan
setiap orang, pertanyaan bagi kita adalah bagaimana bisa menyikapi teknologi
pada saat ini. Di mana remaja yang merupakan pengguna, saat ini telah mabuk
teknologi. Sejarah telah
membuktikan bahwa tidak ada apapun atau siapapun di dunia ini yang mampu
membendung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang yang menghindari
perkembangan iptek hanya akan menjadi katak dalam tempurung. Namun
sebaliknya, menggantungkan kehidupan dan masa depan kita hanya kepada iptek
adalah juga suatu kebodohan. Mengapa? Sebab sejarah juga membuktikan bahwa
iptek bukanlah solusi satu-satunya (the ultimate solution) atas
persoalan hidup manusia.
Menjunjung
tinggi akan kemajuan teknologi, bukan berati menjunjung pula pengaruh buruk
yang nantinya datang dari teknologi tersebut. Orang mungkin yang telah
mengetahui pengaruh buruk dari teknologi, akan sulit untuk menilai teknologi
itu baik dalam hidup manusia. Seperti halnya teknologi nuklir yang bisa membawa
kematian manusia dalam peperangan. Akan tetapi, perlu dilihat juga bahwa
teknologi nuklir bisa di pakai untuk hal-hal yang lebih baik, seperti
pembangkit tenaga listrik. Sama halnya juga dengan teknologi informasi.
Pengaruh buruk yang muncul karena teknologi ini tidak akan mampu untuk
mempengaruhi orang lain ketika ia sendiri mampu untuk bisa
mempertahankan diri dari pengaruh-pegaruh tersebut.
Remaja adalah anak
dengan batasan usia 14-16 tahun, yang mengunjungi warnet maupun yang mengakses
internet di rumahnya. Pertahanan diri dari remaja untuk bisa menghadapi
pengaruh buruk teknologi, sebaiknya peran orang tua harus dipertajam. Mereka
tidak akan mampu untuk mempertahankan diri terhadap pengaruh yang datang, jika
orang tua sendiri hanya memberikan kepercayaan tanpa memperhitungkan situasi
remaja dan dampak dari teknologi. Perhatian orang tua pun janganlah sampai
menekan atau mempersalahkan teknologi. Orang tua harus bisa untuk
menilai teknologi dari sisi yang positif. Bahwa teknologi adalah bentuk kasih
sayang Tuhan yang diwujudkan lewat hasil karya manusia.
Pemahaman
remaja untuk pemanfaatan teknologi informasi sebagai sebuah media Pendidikan
Agama Kristen (PAK), haruslah diberikan. Mengingat kembali remaja yang memiliki
penguasaan diri yang belum matang, sentuhan rohani yang tinggi dalam
hal pemahaman pemanfaatan teknologi sebagai media PAK, mesti diterapkan. Orang
tua yang merupakan sandaran hidup remaja di dalam lingkungan keluarga,
pembinaan dan pemberian pemahaman terkait dengan teknologi haruslah bergerak menuju
kepada Pendidikan Agama Kristen yang lebih berarti dan mudah dipahami dengan
baik oleh remaja pengguna teknologi.
Teknologi
(teknologi Informatika) adalah terobosan yang unik dan membumbuhi aktifitas
hidup manusia secara global. Berdasarkan kenyataan yang mengglobal ini,
teknologi janganlah dilihat sebagai bencana atau sebagai media yang membawa
virus yang meracuni manusia. Seperti yang telah diungkapkan oleh Daud dalam
Alkitab, bahwa teknologi itu telah di nubuatkan sejak lama, setiap orang mesti
dapat menilai teknologi secara positif.
Kecenderungan
orang menilai teknologi sebagai sarana untuk mencapai kesuksesan yang berarti
(dalam hal ini keberhasilan dalam hidup). Segala macam sarana atau media
digunakan untuk bisa berhasil. Setiap orang pun ingin mencapai keberhasilan
dalam hidup. Pada hal semestinya orang lupa bahwa keberhasilan dalam hidup
bukan tujuan yang paten dan lengkap. Setiap orang perlu menyadari bahwa
Keberhasilan Hidup (Succes in Life) tidak memiliki arti
apa-apa tanpa ada “Makna hidup”. Remaja haruslah dibina untuk bisa menemukan
makna hidup dengan pemanfaatan media teknologi informatika. Di mana teknologi
semestinya dilihat dan dipahami oleh remaja sebagai bentuk kasih dan kemurahan
Tuhan yang dihadirkan/ diciptakan oleh manusia.
Remaja janganlah
melihat kehadiran teknologi sebagai sebuah sarana untuk memetik keuntungan
sepihak, sementara remaja sulit untuk menemukan makna hidup dari kehadiran
media tersebut. Teknologi memang diciptakan oleh manusia yang mungkin juga
bukan orang yang seiman dengan kita, tetapi wujud kesetiaan Allah itu
universal. Allah juga patut untuk dihargai dengan kehadiran media tersebut.
Sehingga dalam pemanfaatannya, kecenderungan remaja yang mudah dipegaruhi
hal-hal buruk, dapat ditepis/diminimalisir.
Mengingat
kembali bahwa alkitab juga menghendaki hal yang demikian. Allah sendiri telah
menganugerahkan kapada kita sesuatu yang berguna dan yang sangat besar sehingga
kita juga diperhitungkan dalam kodrat Ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi.
(Bnd. II Ptr.1:3-4). Segala macam pengaruh media yang
mendatangkan bencana dalam hidup akan terus menurun, jika pemberian pemahaman
akan pemanfaatan media yang lebih mengarah pada pendidikan agama Kristen.
Oleh
karena itu, “kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan
kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada
pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, kepada ketekunan
kesalehan.......dst”(Bnd. II Ptr.1:5-11). Kemungkinan yang bisa
nampak dari perhatian orang tua terhadap kebutuhan finansial anak-anak (remaja)
adalah untuk mencapai tujuan yaitu keberhasilan hidup. Namun, yang mesti
menjadi perhatian orang tua adalah sejauh mana remaja itu bisa menemukan makna
hidup dari kemajuan teknologi.
Philip
H. Phenix mengatakan bahwa: anak dan remaja harus dipersiapkan
untuk menghadapi tiga tugas kehidupan yaitu: pertama, untuk dapat
hidup (to make a livng). kedua, untuk mengembangkan kehidupan
yang bermakna (to lead a meaningful life). Ketiga, untuk turut
memuliakan kehidupan (to ennoble life). Tanggung jawab orang tua
terhadap anak-anak tidak akan pernah berhenti, mengingat bahwa orang tua
memenuhi panggilan hidup Kristiani yakni “membantu pribadi” untuk bertumbuh
dalam kemampuannya untuk “internalisasi” yaitu mengasimilasikan
(mencerna) dan mempribadikan (membatinkan) cita-cita transenden Kristus
Pengaruh
teknologi yang mengglobal ini merupakan satu tantangan bagi orang tua untuk
bisa membentuk remaja selaku tulang punggung bangsa secara umum bahkan gereja
(secara khusus). Pembinaan orang tua yang menyentuh kehidupan remaja akan
sangat berarti bagi remaja tersebut. Orang tua janganlah menjauhkan
diri dari anak-anak karena kesibukannya, bentuklah pertemuan ibadah yang bisa
dipakai dalam mendidik (Bnd. Ibr.10 23-35).
Pemahaman
remaja yang baik terkait dengan pemanfaatan teknologi, yakni untuk memperoleh
makna hidup, sangatlah penting jika dibandingkan dengan hanya untuk
keberhasilan dalam hidup. Dengan demikian gereja tidak akan pernah meragukan
lagi keberadaan remaja (remaja Kristen) karena pemupukan kepribadian sudah
sejak dalam keluarga. Sehigga pada akhirnya warisan yang di turunkan dalam
gereja dalam hal ini Selaku Garam Dunia dan Terang Dunia (Bnd.Mat.
5:13-16), remaja dapat mewarisinya.

jempol...
BalasHapusinternet memang bisa di jadikan media pembelajaran PAK tetapi bagaimana dengan anak-anak yang pada dasarnya dengan perkembangan pingin tau tentang hal-hal negatif??? itu juga sangat berbahaya, untuk itu perlu ada bimbingan dalam hal internet sebagai media PAK.
BalasHapushati-hati harus ada kesadaran dalam menggunakan media online jangan sampai bukan materi PAK yang didownload tapi bahan-bahan negatif lainnya...butuh "KESADARAN" :)
BalasHapus